GERILYA MAGAZINE – Setelah hampir dua dekade mengarungi skena musik underground Indonesia, Sandekala kembali menegaskan eksistensinya. Band Symphonic Black Metal asal Cirebon itu bersiap merilis album penuh ketujuh bertajuk Mata Pedang Penghabisan, yang dijadwalkan meluncur serentak dalam format digital dan fisik pada 1 September 2026 melalui Logam Production.
Album yang dikerjakan di Sangkuriang Studio sepanjang 2025 hingga 2026 ini menjadi babak baru perjalanan Sandekala setelah sebelumnya merilis Gerbang Gelap (2025). Berisi 10 lagu, Mata Pedang Penghabisan disebut sebagai penyempurnaan dari seluruh proses kreatif yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun.
Dalam wawancara bersama Gerilya Majalah, Sandekala mengungkap bahwa identitas musikal mereka kini semakin matang. Sentuhan Symphonic Black Metal dipilih bukan sekadar mengikuti tren, tetapi karena dianggap paling mampu mewakili karakter dan jiwa musik mereka.
“Karya-karya Sandekala sekarang lebih mengusung konsep Symphonic Black Metal karena soul musiknya lebih terasa. Kami tetap mengangkat tema-tema peristiwa klenik maupun fakta yang ada di Indonesia, dipadukan dengan karakter musik gelap khas Sandekala,” ungkap mereka.
Tak Ingin Berhenti Berkarya
Perubahan arah musik Sandekala bermula ketika female vocalist yang selama ini menjadi bagian dari identitas band memutuskan hiatus. Namun, alih-alih menunggu tanpa kepastian, mereka memilih terus berjalan.
“Kami tidak mau berdiam di tempat. Daripada menunggu female vocal datang kembali dalam waktu yang tidak pasti, lebih baik melanjutkan berkarya dengan personel yang ada. Dari situlah akhirnya kami bertransformasi menjadi Black Metal dengan sentuhan symphonic.”
Keputusan itu terbukti membawa Sandekala terus produktif hingga kini telah memiliki tujuh album dalam katalog diskografinya.
Lebih Padat, Lebih Modern
Jika dibandingkan dengan album sebelumnya, Mata Pedang Penghabisan menawarkan komposisi yang lebih matang. Menurut Sandekala, pengalaman selama bertahun-tahun menjadi bekal untuk menyempurnakan kualitas musik mereka.
“Secara musikal ini adalah penyempurnaan dari album-album sebelumnya. Riff-riff lebih padat, lebih modern, dan tidak monoton. Sementara dari sisi lirik kami masih konsisten mengangkat tema tentang khayalan, realita, kegelapan, dan kehidupan.”
Meski memiliki benang merah dalam nuansa, seluruh lagu di album ini berdiri dengan cerita masing-masing. Setiap komposisi menawarkan sudut pandang yang berbeda tanpa harus saling terikat dalam satu alur narasi.
Mencuri Waktu di Tengah Kesibukan
Proses pengerjaan album bukan tanpa hambatan. Kesibukan para personel menjadi tantangan terbesar selama proses rekaman berlangsung.
“Semua personel punya aktivitas masing-masing. Jadi kami sering mencuri waktu ketika bisa bertemu. Bahkan sebenarnya 10 lagu sudah selesai direkam pada akhir 2025, tetapi proses mixing dan take vokal sempat tertunda karena kesibukan. Syukurlah sekarang semuanya sudah selesai.”
Tentang Penguasa Lalim dan Sang Kesatria
Di balik judul Mata Pedang Penghabisan tersimpan sebuah kisah yang sarat simbol.
Album ini mengangkat cerita tentang seorang penguasa zalim yang hidup di atas penderitaan rakyatnya. Namun, pada akhirnya muncul seorang kesatria pembawa cahaya yang mengakhiri kekuasaan sang raja iblis.
“Kalau dimaknai secara kiasan, bisa juga menjadi gambaran tentang penguasa yang lalim saat ini. Tapi kita masih menunggu hadirnya sang Satrio Piningit sebagai ratu adil Nusantara,” ujar mereka sambil tertawa.
Rilisan Fisik Tetap Punya Nilai
Di tengah dominasi layanan streaming, Sandekala tetap memilih merilis album dalam bentuk CD dan kaset.
Bagi mereka, rilisan fisik bukan sekadar media penyimpanan lagu.
“Rilisan fisik adalah ijazahnya sebuah band. Itu adalah arsip nyata dari sebuah karya. Sebagai pelaku seni, kami merasa rilisan fisik tetap dibutuhkan sebagai legalitas dan bukti perjalanan sebuah band.”
Tetap Solid Menatap Masa Depan
Meski tidak memasang target muluk-muluk, Sandekala bersyukur karena pendengar lama masih setia mengikuti perjalanan mereka. Bahkan regenerasi penikmat musik ekstrem juga mulai memberikan respons positif terhadap karya-karya terbaru mereka.
Saat ini fokus utama mereka adalah menyelesaikan seluruh proses perilisan album, baik digital maupun fisik. Soal tur atau proyek berikutnya, Sandekala memilih melihat perkembangan situasi mengingat seluruh personel memiliki kesibukan masing-masing.
“Yang penting sekarang menuntaskan perilisan album dulu. Setelah itu baru melihat situasi ke depan. Walaupun sibuk, kami tetap solid.”
Album Mata Pedang Penghabisan akan resmi dirilis pada 1 September 2026. Artwork album dikerjakan oleh Jerkslab, sementara Sandekala saat ini diperkuat oleh Fery (vokal), Mhamedt (gitar/keyboard), Raina (bass), dan Tofan (drum).
Dengan semangat baru dan karakter musikal yang semakin matang, Sandekala kembali membuktikan bahwa konsistensi adalah senjata utama untuk tetap bertahan di kancah underground Indonesia. (alam)
Kirim info/artikel seputar band, wawancara rilisan, acara, reviews single/album atau opini ke gerilyamagazine@gmail.com