Oleh: Hestu Widodo
Ada masalah yang terus berulang di skena musik ekstrem kita. Tentang senior dan yunior yang seolah berada di dua sisi berbeda. Bahkan, kedua istilah itu pun terkadang sudah bisa dirasakan membawa aura negatif. Padahal, sebenarnya mereka berada di roda yang sama.
Sesepuh pernah menjadi bocah, sementara yang muda suatu hari akan mengisi ruang di mana generasi yang lebih tua berada, dan tentunya siap berhadapan dengan generasi yang lebih muda setelahnya.
Namun anehnya, banyak yang seperti lupa. Yang muda merasa tidak diberi ruang, tidak dirangkul, bahkan dianggap tidak tahu apa-apa. Di sisi lain, yang tua merasa pengalaman mereka harus dihormati dan generasi baru harus tahu diri.
Dari sinilah benturan muncul. Yang muda mengkritik para pendahulu karena dianggap eksklusif, sementara yang tua merasa anak muda tidak memiliki rasa hormat. Masing-masing sibuk membela posisinya sendiri sampai lupa bahwa mereka pernah dan suatu saat akan berdiri di posisi yang sama.
Jika pola ini terus berulang, kita hanya akan mengulang persoalan yang sama.
Dulu merasa tidak diberi kesempatan, sekarang tidak memberi kesempatan. Dulu mengeluh tidak dirangkul, sekarang ikut membuat jarak. Dulu mempertanyakan senioritas, sekarang mulai menggunakan senioritas sebagai alasan untuk menuntut dihormati.
Lalu, regenerasi mau dibawa ke mana?
Skena tidak akan mati hanya karena musiknya berubah. Akan tetapi, skena bisa melemah ketika orang-orang di dalamnya terlalu sibuk menjaga status, gengsi, kelompok, dan ego masing-masing.
Kita bukan raja yang harus selalu ditakuti. Kita juga bukan generasi yang otomatis selalu benar hanya karena membawa sesuatu yang baru.
Mungkin sudah waktunya kita berhenti bertanya, “Kenapa anak sekarang tidak menghormati kami?” atau “Kenapa mereka tidak memberi kami ruang?”
Mulailah bertanya: Apa yang bisa kita lakukan agar generasi setelah kita tidak mengalami masalah yang sama?
Sebab, jika setiap generasi hanya ingin duduk di atas roda tanpa pernah memikirkan siapa yang akan menjalankannya setelah mereka, mungkin masalah terbesar skena musik ekstrem kita bukan kekurangan talenta. Bisa jadi, kita hanya terlalu banyak ego dan terlalu sedikit ruang untuk saling memberi jalan.
Karena regenerasi bukan tentang menggantikan siapa yang lama dengan siapa yang baru.
Regenerasi adalah memastikan roda tetap berputar.
Regenerasi bukan menggusur yang lama. Regenerasi adalah memberi kesempatan kepada yang baru untuk melanjutkan perjalanan.
Kalau kita benar-benar mencintai skena, jangan cuma wariskan musiknya.
Wariskan juga ruang untuk tumbuh.
Tulisan ini tidak mewakili ataupun memukul rata seluruh insan, penggiat, maupun penikmat musik ekstrem. Ini hanya pandangan saya sendiri terhadap beberapa kasus yang sebenarnya kurang dari 10 persen dari keseluruhan ruang skena musik ekstrem kita.
Selebihnya, skena musik ekstrem Indonesia tetap solid.
HW — 10/9/2026


