Bandar Lampung – Unit oldschool Death Grind asal Kota Bandar Lampung, VULTURE, kembali mengamuk di awal tahun 2026. Pada 12 Februari 2026, mereka resmi merilis dua single terbaru dalam album promo bertajuk “Dibungkam dan Dilenyapkan” yang kini telah tersedia di seluruh platform musik digital.
Dua single tersebut masing-masing berjudul “Oppressed in Our Own Land” dan “Negeri Para Pendosa”. Keduanya menjadi representasi kemarahan sekaligus sikap tegas VULTURE terhadap berbagai persoalan sosial dan ketidakadilan yang mereka soroti.
Terbentuk sejak 4 September 1997, VULTURE dikenal sebagai salah satu pionir Death Grind di Bandar Lampung yang konsisten membawa kritik sosial, perlawanan, dan energi ekstrem dalam setiap rilisan. Hingga kini, mereka tetap mempertahankan karakter oldschool yang mentah, agresif, dan tanpa kompromi.

Formasi VULTURE saat ini diperkuat oleh:
- Agus Endang – Vokal
- Satria Heru – Lead Guitar
- Slazarhino Virganto – Drum
Sepanjang kariernya, VULTURE telah menorehkan sejumlah rilisan penting, antara lain:
- 2 album penuh (LP) dirilis oleh Edelweiss Records
- 5 EP dirilis oleh Ground Flesh Records
- 3 Promo CD, dengan rincian 2 dirilis oleh Ground Flesh Records dan 1 oleh Edelweiss Records
Dalam album promo “Dibungkam dan Dilenyapkan”, VULTURE menyajikan dua komposisi dengan lirik tajam dan atmosfer gelap. “Oppressed in Our Own Land” berbicara tentang ironi penindasan di tanah sendiri, sementara “Negeri Para Pendosa” menjadi refleksi keras atas moralitas dan praktik kekuasaan yang menyimpang.
Rilisan ini hadir dalam format:
- Promo CD fisik melalui Ground Flesh Records
- Rilisan digital melalui Edelweiss Records (tersedia sejak 12 Februari 2026)
Melalui dua single ini, VULTURE kembali menegaskan identitas mereka sebagai band Death Grind yang bukan hanya bising secara musikal, tetapi juga lantang menyuarakan perlawanan.






