GERILYA MAGAZINE – Setelah lebih dari satu dekade seolah menghilang dari permukaan, unit Brutal Death Metal asal Indonesia, PROSATANICA, resmi mengumumkan perilisan single terbaru bertajuk “Pharaoh”. Rilisan ini bukan sekadar comeback, melainkan deklarasi fase baru—lebih gelap, lebih padat, dan secara produksi terasa jauh lebih masif dibandingkan materi-materi sebelumnya.
Terinspirasi dari mitologi dan simbol kekuasaan Mesir kuno, “Pharaoh” mengangkat metafora tentang penguasa absolut yang berdiri di atas dominasi, kultus, dan kehancuran. Imaji tersebut diterjemahkan secara visual melalui artwork bergaya epik: sosok Pharaoh bersayap bertakhta di atas singgasana, dengan piramida dan kobaran api sebagai latar. Atmosfernya megah sekaligus muram—sebuah estetika yang selaras dengan karakter musikal PROSATANICA.
Secara sonik, “Pharaoh” tetap berpijak pada fondasi Brutal Death Metal yang telah menjadi identitas mereka sejak pertengahan 1990-an: riff gitar yang rapat dan agresif, tempo ekstrem, permainan drum yang presisi dengan intensitas tinggi, serta vokal guttural yang tebal dan konfrontatif. Namun kali ini, pendekatan aransemen terdengar lebih modern, dengan struktur yang lebih terkontrol dan produksi yang memberi ruang pada detail tiap instrumen. Hasilnya adalah komposisi yang tidak hanya brutal, tetapi juga matang secara teknis.

Didirikan pada 1994, PROSATANICA termasuk dalam generasi awal yang membentuk lanskap Brutal Death Metal Indonesia. Pada masa ketika skena underground tumbuh melalui jaringan kaset dan pertunjukan independen, mereka merilis materi dalam format 5 Way Split bertajuk Manic Trooper – Underground Session, bersama sejumlah nama lain di ranah ekstrem. Tonggak berikutnya datang pada 2002 melalui album penuh Bloody Agressor (Edelweiss Records), yang memperkuat posisi mereka sebagai salah satu entitas paling konsisten dalam spektrum ekstrem nasional.
Jarak waktu yang panjang memisahkan album debut tersebut dengan album kedua, Pisau Bernoda Darah, yang dirilis oleh Sulung Extreme Music (S.E.M Records). Meski terpaut 14 tahun, kesinambungan visi musikal tetap terjaga—gelap, agresif, dan tanpa kompromi.
Kini, dengan “Pharaoh”, PROSATANICA menegaskan bahwa kebrutalan bukan sekadar nostalgia era kaset, melainkan bahasa yang terus berevolusi. Proses rekaman dilakukan di Esa Studios, sementara mixing dan mastering dipercayakan kepada Indra Braille di Texas Sicklab—memberikan lapisan produksi yang solid dan tajam.
Formasi terkini—Bento (vokal), MJ dan Rudy (gitar), Sigit (bass), serta Wahyu (drum)—menjadi wajah baru yang tetap membawa DNA lama band ini. “Pharaoh” menjadi bukti bahwa waktu tidak mengikis intensitas; ia justru memadatkannya. Di tengah generasi baru skena ekstrem Indonesia, PROSATANICA kembali berdiri—bukan sebagai artefak masa lalu, melainkan sebagai kekuatan yang masih relevan dan siap membuka bab berikutnya dengan suara yang lebih menghantam dari sebelumnya.
Contact :
+62 812-9019-4915
Social Media :
Instagram : @prosatanica_dm
Facebook : Prosatanica
Spotify : Prosatanica
Youtube : @prosatanica_dm





