Tilas Perjalanan Black Metal: Buku Yulius Nurendra Kupas Mayhem, Kontroversi, dan Sejarah Scene Ekstrem

GERILYA MAGAZINE – Dunia black metal kembali mendapat sorotan lewat hadirnya buku “Tilas Perjalanan Black Metal: Kontroversi, Tragedi dan Konflik”, karya Yulius Nurendra. Buku ini menawarkan pembacaan yang lebih luas mengenai black metal sebagai fenomena musik dan budaya, jauh melampaui stigma “musik keras” atau sekadar sensasi kontroversi.

Dalam buku tersebut, Yulius memetakan bagaimana black metal lahir sebagai bentuk ekspresi artistik, berkembang menjadi gerakan subkultur, lalu memengaruhi lanskap musik ekstrem dunia. Dengan bahasa yang tertata dan mudah dipahami, buku ini ditujukan bukan hanya untuk metalhead, tetapi juga peneliti budaya populer dan pembaca umum yang ingin memahami sejarah black metal secara lebih jernih.

Mayhem Jadi Poros Utama Pembahasan
Salah satu fokus utama buku ini adalah perjalanan band legendaris Mayhem, nama besar yang tak bisa dipisahkan dari sejarah second wave black metal Norwegia. Tragedi dan konflik yang menyertai perjalanan mereka dibahas secara bertanggung jawab, tanpa menjadikannya komoditas sensasi.

Alih-alih mengejar sisi dramatis, penulis menempatkan berbagai peristiwa tersebut sebagai konteks sosial yang menjelaskan bagaimana scene black metal berkembang dan mengapa persepsi publik terhadap genre ini berubah drastis di era 1990-an.

“Matur sembah nuwun kang Yulius Nurendra untuk bukunya, menambah literasi tentang musik UG khususnya Black Metal yang masih jarang sekali ada. Buku pegangan untuk memahami apa dan bagaimana Black Metal yang disampaikan secara naratif dan runut secara histori.”
— Supardi Usman, dikutip dari laman Facebook pribadinya.

De Mysteriis Dom Sathanas dan Blueprint Black Metal Modern
Puncak pembahasan diarahkan pada album De Mysteriis Dom Sathanas, rilisan monumental yang dianggap sebagai salah satu fondasi black metal modern. Album ini dipotret bukan hanya dari sisi musikal, tetapi juga sebagai artefak sejarah yang lahir di tengah situasi internal band yang penuh ketegangan.

Lirik-liriknya juga dibaca lebih dalam, melampaui label “satanik”, dengan pendekatan pada unsur mistisisme, simbol ritual, anti-dogma, hingga keresahan eksistensial yang banyak menginspirasi generasi berikutnya.

Yulius Nurendra

Ditulis Metalhead Veteran dengan Pendekatan Sosiologis
Yulius Nurendra dikenal sebagai penulis dan pengamat subkultur musik ekstrem yang telah mengikuti perkembangan heavy metal sejak awal 1990-an. Lulusan Sosiologi dari Universitas Sebelas Maret ini menggabungkan perspektif akademis dengan pengalaman langsung sebagai bagian dari scene underground Indonesia.

Melalui buku setebal 159 halaman yang diterbitkan oleh Penerbit Selfietera Indonesia, Yulius mencoba menjembatani pemahaman antara dunia akademik dan realitas komunitas metal.

“Black metal bukan sekadar musik keras; ia adalah cermin perjuangan manusia melawan norma, kegelapan batin, dan pencarian makna di dunia yang chaos,” tulis Yulius.

Dari Oslo ke Solo
Selain membahas akar sejarah di Norwegia, buku ini juga menyinggung penampilan Mayhem di ajang Rock in Solo XXI yang digelar di Benteng Vastenburg pada November 2025. Momen tersebut menjadi catatan penting karena menandai kembalinya band ini ke Indonesia setelah satu dekade.

Antusiasme pembaca terhadap buku ini juga mulai bermunculan di media sosial. Salah satunya datang dari Raven Luciferian yang membagikan ulasannya melalui akun Facebook pribadi.

“Sebuah karya fenomenal yang tentunya akan memuaskan dahaga para penggemar berat musik ekstrem khususnya Mayhem dan pastinya akan menambah perbendaharaan ilmu pengetahuan kita tentang sejarah panjang band legend yang satu ini.”
— Raven Luciferian, dikutip dari laman Facebook pribadinya.

Informasi Buku & Kontak
Judul: Tilas Perjalanan Black Metal: Kontroversi, Tragedi dan Konflik
Penulis: Yulius Nurendra
Tebal: 159 halaman
Penerbit: Selfietera Indonesia

Kontak:
Yulius Nurendra
WhatsApp: 0856 9144 7666
Email: yuliusnurendra@gmail.com

Kirim info/artikel seputar band, wawancara rilisan, acara, reviews single/album atau opini ke gerilyamagazine@gmail.com

Related posts