IPPOTIS Rilis Single “Badai Al-Aqsa”, Seruan Kemanusiaan dari Jagat Gothic Metal Karawang

GERILYA MAGAZINE — Di tengah arus musik modern yang terus berubah, sebuah karya dengan pesan kemanusiaan yang kuat hadir dari ranah Gothic Metal Indonesia. Band bertopeng asal Karawang, IPPOTIS, resmi merilis single terbaru mereka berjudul “Badai Al-Aqsa”, sebuah lagu yang tidak hanya menawarkan estetika gelap khas Gothic, tetapi juga menyuarakan penderitaan rakyat Palestina melalui medium musik.

Dalam rilis pernyataannya, IPPOTIS menggambarkan suasana batin yang melatarbelakangi lahirnya lagu ini. “Di bawah naungan Al-Aqsa yang suci, air mata mereka tak pernah kering. Bayang-bayang penjajahan membayangi setiap langkah,” tulis mereka, menegaskan bahwa lagu tersebut merupakan simbol solidaritas terhadap mereka yang tengah menghadapi kekerasan dan kesengsaraan.

“Badai Al-Aqsa” hadir sebagai representasi emosi yang meluap—amarah, duka, dan harapan yang tersisa. Band ini mengekspresikan bagaimana peluru bagaikan hujan yang menghancurkan segala asa, sementara dunia seolah menutup mata. Musik menjadi medium perlawanan: lantang, gelap, dan penuh energi.

Didirikan pada tahun 2013, IPPOTIS lahir dari sekelompok anak muda kelas 1 SMK/SMA di Karawang yang ingin menuangkan keresahan dan kegelapan batin ke dalam karya musik. Di masa awal, mereka sudah berani merilis mini album pertama yang berisi enam lagu dengan nuansa Gothic Metal sangat kental. Tema-tema yang mereka angkat meliputi kemarahan, kritik sosial, penyesalan, perjalanan hidup, hingga romantika gelap—menjadi ciri khas yang kini melekat pada identitas band tersebut.

Berbeda dengan banyak band yang terjebak dalam homogenitas genre, IPPOTIS menghadirkan kombinasi unik antara vokal female clean yang melodius dan vokal growl agresif. Elemen keyboard atmosferik, riff gitar bertenaga, serta tempo drum yang dinamis menjadikan IPPOTIS salah satu band Gothic Metal yang memiliki karakter kuat di skena musik independen Indonesia.

Selama lebih dari satu dekade, IPPOTIS tetap konsisten mengusung tema-tema kelam dan kritis, yang kini mereka padukan dengan isu-isu global seperti kemanusiaan dan perjuangan rakyat Palestina.

Single “Badai Al-Aqsa” bukan hanya sebuah lagu—ia adalah pernyataan sikap. IPPOTIS menegaskan bahwa karya ini merupakan “suara bagi mereka yang tak bisa bersuara, harapan bagi mereka yang tak berdaya, dan bagian dari perjuangan rakyat Palestina.”

Mengusung nuansa Gothic Metal dengan sentuhan atmosfir gelap dan dramatis, lagu ini menggambarkan badai emosional dan fisik yang tengah menerjang tanah suci. IPPOTIS mencoba menghadirkan gambaran musikal tentang kehancuran, ketidakadilan, dan kesedihan yang selama ini mungkin hanya kita saksikan sekilas melalui layar berita.

Dengan rilis ini, IPPOTIS berharap musik dapat menjadi salah satu bentuk solidaritas dan amplifikasi pesan kemanusiaan. “Musik mungkin tidak bisa menghentikan peluru, tetapi ia bisa menggerakkan hati,” ujar salah seorang personel dalam keterangannya.

Formasi terbaru IPPOTIS tahun 2025 terdiri dari tujuh personel dengan perannya masing-masing:
Sisil – Vocal Female
AL-Husein – Vocal Growl
X-Chenk – Guitar 1
Ziloen – Guitar 2
Ghie – Bass
Ibhasab – Keyboard
Ryan – Drum

Dengan formasi yang solid, mereka terus mengembangkan konsep musik yang memadukan elemen Gothic, nuansa teatrikal, serta pesan sosial.

Berbasis di Pancawati, Klari, Kabupaten Karawang, IPPOTIS membuktikan bahwa karya besar tidak harus lahir dari kota besar. Dari sebuah daerah di Jawa Barat, mereka membangun identitas musik yang unik dan mulai dikenal oleh para penikmat Gothic Metal di berbagai tempat.

Keberanian mengangkat isu Palestina melalui musik metal menunjukkan bahwa band ini tidak hanya fokus pada estetika genre, tetapi juga pada pesan kemanusiaan.

Kontak IPPOTIS
Pancawati 04/1, Klari, Kab. Karawang (41371), Jawa Barat – Indonesia
Contact Person (WhatsApp): +62 896-7717-0316 (Husein)

Media Sosiali
YouTube: @ippotis_gothess
Instagram: @ippotis_gothess
TikTok: @ippotis.gothess

Dengan rilis “Badai Al-Aqsa”, IPPOTIS tidak hanya memperluas katalog musiknya, tetapi juga memperkuat posisi mereka sebagai band yang berani menyampaikan isu sosial melalui seni. Di tengah gelapnya dunia, mereka ingin menyampaikan satu pesan sederhana: Harapan tidak boleh padam. (alam)

Kirim info/artikel seputar band, wawancara rilisan, acara, reviews single/album atau opini ke gerilyamagazine@gmail.com

Related posts