AURA 13, Ritual Gelap dari Malang yang Bangkit Menembus “Gerbang Kematian”

GERILYA MAGAZINE – Dari lorong gelap skena metal Kota Malang, nama Aura 13 bukan sekadar band—melainkan entitas musikal yang lahir dari keresahan, kegelapan, dan pencarian makna di ambang kematian. Terbentuk pada tahun 1998, Aura 13 mengusung konsep musik yang lebih dari sekadar agresi suara: mereka menjadikan musik sebagai ritual, medium untuk mengalirkan energi gelap, penderitaan, serta refleksi spiritual manusia.

Sejak awal, Aura 13 telah memproyeksikan identitas yang kuat dengan nuansa mistis dan atmosfer mencekam. Formasi awal band ini terdiri dari:

  • IS ROFI (vokal)
  • VENTY R.I.P (back vocal)
  • MOULTO (guitar)
  • ANDIX (bass)
  • BUDI (keyboard – sequencer)
  • ARIS.K (drum)

Dengan formasi tersebut, mereka merilis album perdana “Meaning Sickness” di bawah naungan R.A Prod pada awal 2000-an—sebuah rilisan yang mempertegas arah musikal mereka dalam ranah metal gelap dengan sentuhan atmosferik.

Namun, perjalanan Aura 13 sempat terhenti. Hampir dua dekade lamanya mereka tenggelam dalam hiatus panjang. Hingga akhirnya, semangat lama kembali menyala. Dengan visi dan misi baru, Aura 13 bangkit dengan formasi terbaru:

  • MOULTO (lead vocal – guitar)
  • JOEMARY (back vocal – lead guitar)
  • ANTONO (bass)
  • BUDI (keyboard – sequencer)
  • ARIS.K (drum)

Kebangkitan ini melahirkan karya monumental bertajuk “Gerbang Kematian”, album kedua yang menjadi manifestasi evolusi musikal sekaligus spiritual mereka.

Album Gerbang Kematian (The Gate of Death) hadir dengan 8 komposisi lagu yang dirancang sebagai satu kesatuan perjalanan gelap. Terinspirasi dari budaya Jawa yang sarat simbolisme, Aura 13 meramu riff agresif, vokal yang menghantui, serta atmosfer ritualistik menjadi pengalaman mendalam bagi pendengar.

Setiap lagu dalam album ini terasa seperti mantra—sebuah pemanggilan terhadap roh leluhur sekaligus jeritan batin manusia yang menghadapi kefanaan. Aura 13 membawa pendengar melintasi dunia bayangan yang dipenuhi kecemasan, penderitaan, dan keheningan abadi.

Tema besar yang diusung adalah kematian, bukan hanya sebagai akhir, tetapi juga sebagai bentuk transendensi. Namun di balik itu, tersimpan ketakutan akan kehampaan yang abadi. Delapan lagu dalam album ini menjadi representasi fase perjalanan menuju “gerbang terakhir” tersebut.

Album “Gerbang Kematian” resmi dirilis pada 5 April 2026 dalam format terbatas CDr dan kaset pita oleh Edelweiss Records yang berbasis di Jakarta. Rilisan ini menjadi buruan kolektor dan penikmat musik underground yang masih menghargai nilai eksklusivitas format fisik.

Diskografi Aura 13
When The Shine Appears – Demo Tape (1999)
A Woman Vampires Cry – Compilation Northern Warrior Prod (2001)
Meaning Sickness – Neohellist Compilation Album E.S.P Prod (2001)
Meaning Sickness – Full Album R.A Prod (2002)
Hell Executioner – Depper Underground Compilation
Gerbang Kematian – Malang Black Metal Division Compilation (2023)
Gelap Yang Abadi – Kryptonite Blast #2 Compilation (2023)
Gelap Yang Abadi – Garda Hitam #3 Compilation (2023)
Lembah Pronojiwo – Hantam Rata #6 Compilation (2023)
Gerbang Kematian – Full Album Edelweiss Records (2026)

Aura 13 bukan band metal biasa. Mereka menggabungkan elemen budaya lokal dengan pendekatan ekstrem yang penuh atmosfer. Musik mereka adalah lorong gelap yang mengajak pendengar untuk menatap ketakutan terdalam—sekaligus memahami sisi paling sunyi dari eksistensi manusia.

Dengan “Gerbang Kematian”, Aura 13 menegaskan bahwa mereka belum selesai. Justru, mereka baru saja membuka pintu menuju sesuatu yang lebih dalam, lebih gelap, dan lebih abadi.

Kirim info/artikel seputar band, wawancara rilisan, acara, reviews single/album atau opini ke gerilyamagazine@gmail.com

Related posts