UNDIMENSION Rilis Album Debut “Imperium Manifestopia”, Sajikan Technical Death Metal Sarat Narasi Distopia

GERILYA MAGAZINE — Unit Technical Death Metal asal Jakarta, Undimension, resmi merilis album penuh perdana bertajuk Imperium Manifestopia pada Jumat (26/6/2026) melalui label In Blood Records. Album ini menjadi tonggak penting perjalanan band sejak terbentuk pada 2022 sekaligus menandai ambisi artistik terbesar yang pernah mereka hadirkan.

Berisi tujuh komposisi yang memadukan materi lagu dan instrumen bernuansa naratif, Imperium Manifestopia dirancang sebagai karya konseptual yang tidak hanya mengedepankan agresivitas death metal modern, tetapi juga merangkul pendekatan progresif, teknikal, dan sinematik.

Melalui album ini, Undimension menghadirkan lanskap musikal yang dibangun dari lapisan riff kompleks, dinamika ekstrem, serta konstruksi atmosfer yang mengarahkan pendengar memasuki dimensi cerita tentang krisis kemanusiaan, manipulasi ideologi, hingga pertarungan batin manusia modern.

Secara konseptual, judul Imperium Manifestopia merupakan gabungan dua gagasan utama. Kata Imperium merepresentasikan kekuasaan dan dominasi yang memiliki pengaruh besar terhadap peradaban, sementara Manifestopia merupakan gabungan dari “manifestasi” dan “distopia”, yang menggambarkan realitas ideal yang dipaksakan untuk terwujud melalui kehendak tertentu.

Dari gagasan tersebut, album ini berkembang menjadi refleksi atas bagaimana sistem, ideologi, dogma, dan ambisi kolektif dapat berubah menjadi alat legitimasi menuju gambaran peradaban ideal, namun pada saat yang sama menyimpan potensi manipulasi, supremasi, dan dehumanisasi.

Undimension menyampaikan bahwa Imperium Manifestopia hadir sebagai ruang untuk mempertanyakan batas antara kemajuan yang sesungguhnya dan ilusi kesempurnaan yang dibangun oleh struktur kekuasaan.

Secara musikal, album ini menjadi eksplorasi terbesar mereka sejauh ini. Berangkat dari fondasi Technical Death Metal dan Progressive Death Metal, Undimension meramu berbagai pendekatan komposisi yang mempertemukan intensitas ekstrem dengan elemen scoring sinematik, ambient texture, serta harmoni modern.

Pengaruh dari sejumlah nama besar seperti Death, The Black Dahlia Murder, At The Gates, Necrophagist, Obscura, Beyond Creation, Gorod, hingga Lorna Shore terasa hadir sebagai fondasi referensial, namun tanpa menghilangkan identitas musikal yang sedang mereka bangun.

Setiap komposisi diposisikan layaknya babak dalam sebuah film—membangun emosi, ketegangan, ledakan agresi, hingga ruang reflektif yang menggambarkan konflik internal manusia di tengah era kontemporer.

Proses penulisan musik album ini dikerjakan oleh Gambino Gosal (gitar), Lukman Hakim (gitar), Nanda Milhan (bass), dan Ardian (drum). Sementara pengembangan konsep lirik dan narasi digarap secara kolektif oleh Rizky Al Anshary (vokal), Lukman Hakim, dan Ardian.

Untuk proses produksi, Undimension mempercayakan keseluruhan pengerjaan kepada Cristian Wailan Mamuaya dari Chriswama Creative Works yang menangani aspek produksi, rekaman, mixing, hingga mastering. Pendekatan produksinya difokuskan untuk menjaga keseimbangan antara karakter agresif death metal modern dan ruang sonik sinematik agar setiap lapisan instrumen tetap terdengar detail tanpa kehilangan intensitas.

Sebelum perilisan album penuh ini, Undimension lebih dahulu memperkenalkan arah musikal terbarunya melalui single “Dogma Karsa Petaka” yang dirilis pada Mei 2026 sebagai pengantar menuju Imperium Manifestopia.

Band yang kini diperkuat oleh Rizky Al Anshary (vokal), Gambino Gosal (gitar), Lukman Hakim (gitar), Nanda Milhan (bass), dan Ardian (drum) tersebut menyebut album debut ini sebagai cermin atas dinamika kontemporer di tengah dunia yang terus menawarkan gagasan tentang kesempurnaan, namun kerap mengabaikan nilai kemanusiaan.

Album Imperium Manifestopia kini telah tersedia di berbagai platform streaming musik digital.

Kirim info/artikel seputar band, wawancara rilisan, acara, reviews single/album atau opini ke gerilyamagazine@gmail.com

Related posts