GERILYA MAGAZINE | Manila, Filipina – Setelah melewati perjalanan panjang sejak terbentuk pada 1993, band extreme metal asal Manila, Filipina, SACRILEGION, resmi mengumumkan kebangkitannya pada 2026. Mengusung karakter Apocalyptic Death Thrash/Crossover, band ini tengah merampungkan album penuh perdana yang dijadwalkan menjadi penanda babak baru perjalanan mereka.
SACRILEGION bukan nama baru dalam lanskap underground Filipina. Terbentuk pada 1993, band ini pernah menjadi bagian dari geliat skena musik keras Manila pada akhir 1990-an. Mereka tercatat aktif dalam sejumlah pertunjukan underground di beberapa tempat legendaris, seperti Club Dredd, Klab Nyo, Yosh Café, dan Bottom Line.
Secara musikal, SACRILEGION meramu berbagai elemen ekstrem, mulai dari thrash metal, death metal, power metal, hingga grindcore, dengan sentuhan progresi dan harmoni jazz. Pendekatan tersebut membentuk karakter musik yang agresif, dinamis, serta tidak sekadar terjebak dalam pola musik metal era 1990-an.
Pengaruh musikal mereka mencakup nama-nama besar seperti SLAYER, ANTHRAX, D.R.I., KREATOR, RIGOR MORTIS, NAPALM DEATH, SORE THROAT, DEATH, dan CYNIC.
Di luar karakter musiknya, SACRILEGION juga memiliki pendekatan lirik yang kuat dengan tema-tema apokaliptik. Mereka mengangkat persoalan keruntuhan, kekuasaan gereja, ritual pemakaman, ketakutan psikologis, hingga gambaran kehancuran manusia. Bagi band ini, tema tersebut bukan sekadar fantasi, melainkan refleksi atas realitas sosial dan kehidupan yang mereka amati.
Sepanjang perjalanannya, SACRILEGION telah memiliki sejumlah lagu yang menjadi bagian penting dari identitas mereka, di antaranya “Fear Turns Psycho”, “Eve of Burial”, “Luha ng Birheng Buwaya”, “Guardians of the Church”, “The After Life”, dan “Fire Power”.
Menariknya, album penuh perdana yang sedang dipersiapkan untuk 2026 akan menghadirkan rekaman ulang keenam lagu tersebut, ditambah empat komposisi baru bertema apokaliptik. Proses rekaman direncanakan berlangsung di Manila pada kuartal keempat 2026.
Kebangkitan SACRILEGION juga ditandai dengan formasi terbaru beranggotakan lima personel. Bernard Clemente mengisi vokal, Renato Mejia Carino dan Jeff Filosopo pada gitar, Pods Mallari bersama Joseph Parangue pada bass, serta Robert Dela Cruz di posisi drum.
Bernard Clemente dan Renato Mejia Carino tetap menjadi bagian inti yang menjaga kesinambungan identitas band, sementara perubahan komposisi personel lainnya memberikan energi baru bagi formasi kebangkitan ini.
Setelah sempat tidak aktif, SACRILEGION menegaskan bahwa kembalinya mereka bukan semata-mata untuk bernostalgia. Band ini melihat tema-tema yang pernah mereka tulis sejak era 1990-an justru semakin relevan dengan kondisi dunia saat ini.
Dengan album debut yang tengah diselesaikan, SACRILEGION juga mulai membuka kesempatan untuk tampil dalam berbagai agenda musik lokal maupun internasional sepanjang 2027. Mereka menargetkan festival, pertunjukan klub, serta panggung crossover yang mempertemukan penggemar death metal dan hardcore.
Setelah 33 tahun sejak pertama kali terbentuk, SACRILEGION kini bersiap membuka kembali lembaran perjalanan mereka. Bukan sekadar menghidupkan nama lama, tetapi membawa kembali dentuman death thrash apokaliptik dari Manila ke panggung musik ekstrem dunia.





