Rottenblast Rilis Demo “Evildoers MDXI”, Suguhkan Death Metal Kelam Bertema Imperialisme Klasik

GERILYA MAGAZINE – Unit Death Metal asal Malang, Rottenblast kembali menorehkan manifestasi kegelapan melalui rilisan demo terbaru bertajuk Evildoers MDXI. Karya terbaru ini menjadi eksplorasi sonik yang menelusuri jejak imperialisme klasik yang pernah mengaburkan cakrawala Nusantara pada awal abad ke-15.

Era tersebut digambarkan sebagai masa eksploitasi tanpa ampun, kekerasan sistematis, serta pergeseran sosial, budaya, hingga spiritual yang menghantui masyarakat lokal. Di balik narasi sejarah itu, terpatri semboyan usang 3G yakni gold, glory, gospel, yang menjadi bahan bakar kerakusan dan dominasi.

Demo Evildoers MDXI dijadwalkan resmi rilis pada 20 April 2026 melalui Oath Artifact Prods. Rilisan ini memuat tiga komposisi kelam yang merangkum atmosfer penderitaan, kemarahan, dan ingatan kolektif yang tak pernah benar-benar padam.

Sebagai band yang telah aktif sejak 2010, Rottenblast terus menggali spektrum ekstremitas musikal mereka. Demo ini menjadi penanda evolusi, baik secara komposisi maupun pendekatan atmosferik yang kini semakin mendekati bentuk paling jujur dari apa yang ingin mereka suarakan.

Melalui Evildoers MDXI, Rottenblast berupaya merangkum kembali serpihan penderitaan masa lalu, menggali, mengendapkan, lalu memuntahkannya dalam bentuk suara kasar tanpa kompromi. Sebuah pengingat bahwa kekejaman tidak pernah benar-benar mati, melainkan hanya berubah bentuk dan menunggu untuk dikenali kembali.

Meski masa kelam tersebut tak lagi hadir secara kasat mata, bayangannya disebut tak pernah benar-benar sirna. Ia berdiam dalam retakan sejarah, hidup di antara ingatan yang diwariskan, dan berbisik dalam ruang yang tak sepenuhnya bisa ditutup. Setiap cahaya yang mencoba menembusnya justru menyingkap luka lama yang masih tersimpan dalam diam.

Proses penggarapan demo ini berlangsung dalam rentang waktu panjang, mencerminkan keseriusan Rottenblast dalam meramu identitas musikal mereka. Band tersebut meyakini rilisan ini sebagai representasi paling otentik dari arah musikal yang mereka kehendaki, sementara penilaian akhir diserahkan sepenuhnya kepada para pendengar yang berani menyelami kegelapan itu.

Kirim info/artikel seputar band, wawancara rilisan, acara, reviews single/album atau opini ke gerilyamagazine@gmail.com

Related posts