GERILYA MAGAZINE – Lahir dari situasi sosial-politik yang bergejolak, Disobedience bukan sekadar band—mereka adalah refleksi keras dari era krisis Indonesia akhir 90-an. Dibentuk pada tahun 1998 dan mulai aktif setahun kemudian, unit hardcore grind punx ini muncul sebagai respons langsung terhadap kerusuhan besar yang melanda negeri, ketika gelombang demonstrasi, pemberontakan rakyat, hingga penjarahan menjadi potret kelam transisi zaman.
Sejak awal, Disobedience sudah menancapkan identitasnya sebagai band dengan sikap tegas. Mengusung genre HC Grind Punx, mereka meramu kebisingan ekstrem dengan energi punk yang mentah, terinspirasi oleh nama-nama seperti Extreme Noise Terror, Doom, Assuck, dan Disrupt. Hasilnya adalah sound yang brutal, cepat, dan tanpa kompromi—selaras dengan pesan yang mereka bawa.
Tema lirik Disobedience berputar pada isu politik, kemanusiaan, dan berbagai persoalan sosial. Tidak ada romantisasi—yang ada hanya kritik tajam dan kemarahan yang dilontarkan lewat distorsi dan teriakan.

Perjalanan panjang mereka juga diwarnai dengan berbagai pergantian personel. Meski begitu, semangat kolektif tetap terjaga. Formasi terkini dihuni oleh:
- Tommy Bonz (vokal)
- Armet Aris (gitar)
- Roy Gerrard / Roid (drum)
- Ipanx (vokal & bass)
Sementara itu, sejumlah nama yang pernah menjadi bagian dari perjalanan Disobedience antara lain Ucha Fuxxer, Jambullshit, Budi Anom, Berlin Anger, Galih Gail, Enjen Sparre, Rangga Ukkus, Adit, Ketut Biotech, Hery Paslah Tavox (Fadihat), Dede Kurniawan, dan Japuy.
Dalam hal rilisan, Disobedience telah menorehkan jejak yang konsisten di skena independen:
- “Fight War Fight Class” (2001) – album penuh pertama di bawah Movement Records
- “We Don’t Fear Terror” (2010) – split album bersama Rampageous via Dead Capitalist Records
- Kompilasi:
- Still One Still Proud Vol. 3 (2000)
- The Boots Trooper Vol. 1 (2000)
- Make Noise Not War Vol. 7 (2025)

Lebih dari dua dekade berjalan, Disobedience tetap menjadi suara keras dari pinggiran—mengawal isu, menyuarakan kemarahan, dan menjaga semangat DIY tetap hidup.
Dengarkan & Ikuti Disobedience:
- Bandcamp: disobedience-jkt.bandcamp.com
- Linktree: linktr.ee/disobedience.jakarta
- YouTube: Disobedience Jakarta
- Facebook: disobedience.jkt
- Instagram: @disobedience.jkt
Di tengah perubahan zaman dan industri musik yang terus bergeser, Disobedience membuktikan bahwa resistensi tidak pernah usang—ia hanya mencari medium yang lebih bising untuk didengar.





